Berhenti Mempercantik Produk, Mulailah Berjualan

Banyak pelaku usaha di Sulawesi Barat—mulai dari pengolah abon ikan di Majene sampai pengrajin Tenun Sambu di Mamasa—menghabiskan modal di “dapur” sebelum sempat melihat wajah pembeli. Kita terkadang terlalu sibuk mempercantik kemasan dan menyempurnakan fitur, padahal belum tentu itu sesuai dengan harapan orang di Pasar Majene atau toko oleh-oleh di Mamuju. Jangan sampai kita merasa sudah menang di dalam rumah, tapi ternyata “mati kutu” saat barang baru ditaruh di rak toko.


Sering saya temui di lapangan, teman-teman terjebak dalam rasa sayang yang berlebihan pada produk sendiri. Kita merasa kalau produk belum mengkilap, kita belum siap “perang”. Padahal ada yang lebih penting dari itu. Berikut adalah beberapa kenyataan pahit yang harus kita pahami dalam berwirausaha:

  • Penyakit “Sempurna” Itu Menipu – Kita sering menunggu produk 100% sempurna baru berani jualan. Padahal, dunia usaha itu dinamis. Seringkali, apa yang kita anggap bagus secara teknis, belum tentu sesuai kebutuhan pelanggan. Ingat, memaksakan produk menjadi yang paling “canggih/enak” justru jadi bumerang kalau tidak sesuai di kantong calon pelanggang kita.
  • Terjebak “Teater Kesuksesan” – Eric Ries pernah bilang soal achieving failure. Ini persis seperti saat kita bikin acara “Grand Opening” atau “Launching” yang mewah, dimana semua orang mungikin akan memuji produk kita “enak”, tapi ternyata itu cuma teman atau keluarga yang tidak enak hati untuk jujur. Begitu produk dihadapkan dengan calon pelanggan yang sebenarnya, produk kita malah “melempem” karena tidak ada yang mau beli.
  • Fakta Itu Ada di Pasar, Bukan di Rumah – Kebenaran tentang produkmu tidak ada di rumah, dapur, atau laptop mu. Kebenaran itu ada di pasar dan di tangan pembeli. Seperti kata Steve Blank, “Keluarlah dari gedung!”. Jangan cuma berteori soal kenapa produkmu hebat, tapi tanyakan langsung ke orang di pasar: “Bapak/Ibu, mau tidak bayar segini untuk barang ini?”
  • Senjata Rahasia: Produk “Uji Coba” – Jangan takut rilis produk yang masih sederhana atau “cacat” sedikit di mata kita. Gunakan produk ini untuk tes ombak. Lebih baik tahu produk kita ditolak saat modal baru keluar sedikit, daripada tahu produk ditolak setelah modal puluhan juta ludes tak bersisa.
  • Pemenang Adalah yang Paling Cepat Belajar – Di Sulbar, tantangan logistik dari Mamuju ke pelosok itu nyata. Pemenang bisnis bukan dia yang paling banyak modalnya, tapi dia yang paling cepat belajar dari kesalahan lapangan dan segera memperbaikinya sebelum kompetitor menyalip.

Tinggalkan Balasan